PETANDA SEROLOGIK INFEKSI HEPATITIS B

satu sinopsis

Stephanus Gunawan

Rumah Sakit Biomedika, Mataram

Introduction
Pengetahuan yang baik mengenai petanda serologik infeksi sangat diperlukan untuk meminta pemeriksaan serta mengartikan pemeriksaan tersebut demikian pula pengetahuan tentang petanda serologik infeksi hepatitis B sangat perlu untuk follow up dan menilai hasil pengobatan.

HBsAg

Pada infeksi virus Hepatitis B (VHB), hepatitis B surface antigen (HBsAg) merupakan petanda serologik infeksi VHB pertama yang muncul di dalam serum (3, 12) dan mulai terdeteksi antara 1 sampai 12 minggu pasca infeksi, mendahului munculnya gejala klinik serta meningkatnya SGPT. Selanjutnya  HBsAg  merupakan satu-satunya petanda serologik  selama 3 – 5 minggu. Pada kasus yang sembuh, HBsAg akan hilang antara 3 sampai 6 bulan pasca infeksi sedangkan pada kasus kronis, HBsAg akan tetap terdeteksi sampai lebih dari 6 bulan (3). Selain merupakan selubung luar partikel Dane, HBsAg juga merupakan selubung partikel bulat dan partikel tubuler yang masing-masing tidak mengandung protein core serta  HBV DNA.
Pemeriksaan HBsAg berguna untuk diagnosa infeksi VHB, baik untuk keprluan klinis maupun epidemiologik. skrining darah di unit-unit transfusi darah, serta digunakan pada evaluasi terapi hepatitis B kronis.

Anti – HBs

Anti HBs merupakan antibodi spesifik untuk HBsAg, muncul di darah 1 sampai 4 bulan setelah timbulnya gejala. Munculnya antiHBs menyusul hilangnya HBsAg  menandakan kesembuhan dan karena antiHBs dapat menetralisir VHB maka antiHBs disebut antibodi yang protektif (3). Kadang-kadang, pada 10 – 20% penderita dengan hepatitis B kronis, bisa ditemukan anti HBs, dikatakan bahwa antiHBs tersebut ditujukan kepada determinan subtipe yang berlainan dengan HBsAg yang ada(12).

HBcAg dan Anti – HBc

Protein core, dikenal sebagai HBcAg (21 kd) dan protein precore atau HBeAg (18 kd) keduanya merupakan protein yang dikode gen core tetapi  ditranslasi melalui 2 macam RNA yang berbeda. HBcAg di translasi melalui pregenom RNA, sedangkan HBeAg melalui precore mRNA. HBcAg  berperan penting pada proses replikasi virus dan pembentukan partikel Dane, serta  merupakan bagian utama nukleokapsid  yang membungkus DNA VHB. Karena letaknya di dalam (tertutup HBsAg) maka antigen ini tidak terdeteksi di dalam serum, meskipun demikian tubuh akan membentuk antiHBc, antibody spesifik untuk HBcAg, karena adanya peptida HBcAg (partikel HBcAg yang kecil) yang dipresentasikan pada permukaan Antigen Presenting Cell dan permukaan sel-sel hepar bersama MHC kelas I atau 2 (7).

Anti HBc  merupakan antibodi pertama yang muncul di dalam darah pasca infeksi, biasanya mulai terdeteksi pada minggu ke  6 – 8. Mula-mula IgM antiHBc  bentuk IgM mendominasi selama 6 bulan pertama dan  setelah 6 bulan  bentuk IgG yang dominan. IgM antiHBc merupakan petanda serologik hepatitis B akut atau hepatitis B kronik fase reaktivasi (8, 12). Pada window period juga didapat IgM antiHBc positif (12). Pada 1 – 5% penderita dengan hepatitis B akut, HBsAg tidak terdeteksi karena titer yang rendah. Pada kasus tersebut adanya IgM anti HBc dapat digunakan untuk memastikan diagnosa hepatitis B akut (12). Kadang-kadang ditemukan IgG antiHBc dengan HBsAg dan anti HBs yang negatif, bila hal ini ditemukan pada individu dengan faktor resiko tertular infeksi VHB yang tinggi atau pada individu yang tinggal di daerah dengan prevalensi HBsAg yang tinggi, besar kemungkinan hasil tersebut positif palsu, akan tetapi sebaliknya bila individu tersebut bukan seseorang dengan factor resiko tertular infeksi VHB atau tinggal di daerah dengan prevalensi HBsAg rendah, maka kemungkinan individu tersebut baru saja terinfeksi VHB, dengan antiHBs yang belum muncul (window period). Kemungkinan lain, IgG antiHBc positif dengan HBsAg dan anti HBs negatif bisa ditemukan pada  “occult hepatitis” yaitu bila ditemukan HBV DNA positif.

HBeAg dan Anti – HBe

HBeAg tidak ikut membentuk virus utuh, tidak berperan pada proses replikasi, virus tetapi disekresi langsung dari hepatosit  ke dalam serum. Dalam klinik HBeAg digunakan sebagai indeks replikasi virus, tingkat infektivitas, beratnya penyakit dan respon terapi. Antigen ini muncul pada minggu 3 – 6 pasca infeksi yang merupakan  periode yang paling infeksius. Pada kasus-kasus hepatitis B akut yang ”self limited”,  HBeAg akan hilang segera setelah puncak meningkatnya SGPT, sebelum hilangnya HbsAg dan selanjutnya akan muncul anti Hbe. Persistensi HBeAg positif lebih dari 10 minggu menunjukkan adanya progresi penyakit menuju kronis (3).
AntiHBe merupakan antibodi spesifik untuk HBeAg. Meskipun terdapat kesamaan yang signifikan dalam susunan asam amino antara HBcAg dan HBeAg, akan tetapi pengenalan kedua antigen oleh sistim imun berbeda. Namun demikian ada suatu “cross reactive” kedua antigen tersebut pada tingkat CD4+ Tcell (1,2).

HBV DNA

HBV DNA bisa ditemukan dalam 30 hari pasca infeksi, dengan puncaknya pada 6 minggu. Pemeriksaan HBV DNA dilakukan dengan sampel dari serum dan sel-sel hepar, pemeriksaan tersebut  dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. Pemeriksaan HBV DNA kuantitatif di dalam serum penting dalam rangka mengetahui aktifitas penyakit, efektifitas obat antiviral, memprediksi hasil terapi antiviral, deteksi dini timbulnya resistensi serta menentukan adanya “occult hepatitis”. Mula-mula metode yang digunakan adalah hibridisasi dengan sensitifitas  sekitar 5 X 10 5 kopi/ml, selanjutnya digunakan metode PCR yang mampu mendeteksi 300 kopi/ml. Karena belum adanya keseragaman dalam hal cara pemeriksaan dan hasil, WHO menyarankan penggunaan IU/ml, dengan 1 IU/ml = 5-6 kopi/ml (3).
Selain pemeriksaan HBV DNA kualitatif dan kuantitatif, dilakukan pula sekuensing HBV DNA untuk menentukan genotype dan adanya mutasi. Pemeriksaan genotype penting karena ada kaitannya dengan terapi hepatitis B.
Pemeriksaan HBV DNA di dalam sel-sel hepar, menggunakan metode PCR mengevaluasi cccDNA (covalently closed circular DNA) di dalam nucleus hepatosit yang mentranskripsi pregenom RNA.  Bukti penelitian menyatakan karena cccDNA tidak mengadakan replikasi, maka cccDNA tidak terpengaruh oleh obat-obat analog nukleos(t)ide (3).

HBcr Ag

Untuk kepentingan terapi, baik untuk menentukan siapa yang butuh terapi, kapan mulai terapi, evaluasi serta kapan menghentikan terapi, diperlukan besaran kuantatif viral load, dan untuk itu  pemeriksaan  DNA kuantitatif dengan metode PCR, masih merupakan metode utama. Kendalanya, pemeriksaan tersebut merupakan pemeriksaan biaya tinggi, serta memerlukan peralatan dan  ketrampilan yang khusus. Sehubungan dengan itu beberapa ahli mengajukan alternatif metode pemeriksaan yaitu dengan cara lama yang lebih sederhana yaitu ELISA. Pada metode ini yang diukur kadarnya dalam serum adalah HBcAg yang berasal dari komponen nukleokapsid partikel Dane serta  HBcAg dan HBeAg yang berasal dari masing-masing kompleks antigen-antibodinya. Untuk mendapatkan HBcAg dan HBeAg bebas,  sample serum mendapatkan “pretreatment” dengan SDS. Jumlah HBcAg dan HBeAg  tersebut selanjutnya disebut HBcr Ag (Hepatitis B core related antigen) (5,6).

Penelitian menunjukkan korelasi positif antara HBcrAg dengan viral load didalam serum dan penelitian lain juga menunjukkan korelasi dengan cccDNA intrahepatik, dengan demikian pemeriksaan HBcrAg bisa digunakan untuk monitoring efek obat-obat anti viral dan karena bisa merefleksi aktifitas hepatitis B kronis, HBcrAg bisa berfungsi sebagai marker monitoring hepatitis B kronis (4).Sumber Tabel

Kepustakaan

1. Milich D, Liang T.J.. Exploring the Biological Basis of Hepatitis B e Antigen in hepatitis B Virus Infection. Hepatology 2003;38:1075-1086.

2. Locarnini S. Assessing HBV Virologic Markers. Avaliable at: www.clinicaloptions.com/hepatitis/Treatment%20Updates/HBV%20Resis

3. WHO/CDS/CSR/LYO/2002.2:hepatitis B

4. Danny KW, Tanaka Y, Lai CL, Mizokami M, James F and Yuen MF, in Hepatitis B Virus Core-Related Antigens as Markers for Monitoring Chronic Hepatitis B Infection. J of Clin Microb, Dec.2007, 3942-47

5. Kimura T et al in New Enzyme Immunoassay for Detection of Hepatitis B virus Core Antigen (HBcAg) and Relation between Levels of HBcAg and HBV DNA, J of Clin Microb; May 2003, 1901-06

6. Kimura T et al in Sensitive Enzyme Immunoassay for Hepatitis B Virus Core-Related Antigens and Their Correlation to Virus Load, J of Clin Microb, Feb.2002, 439-45

7. Spach DH, Hofmann J. Hepatitis B Serologic and Virologic Markers of Hepatitis B Virus Infection, Available at: http://depts.Washington.edu/hepstudy/hepB//clindx/serology/index.html

8. Henkel A.S, Flamm S.L. in Clinical Evaluation of the HBV infected patient. Avaliable in: http://www.medscape.com/viewarticle/570497.

9. Frenette C.T., Gish R.G. Screening At-Risk individuals for Hepatitis B: What Do the Guidelines Say ?.

Avaliable in: http://www.medscape.com/viewarticle/583707.

10. Yim H.Y., Anna S.F. Lok. Natural History of Chronic Hepatitis B VirusInfection: What We Knew in 1981 and What We Know in 2005.Hepatology,43,2, Suppl 1, 2006.

11. EASL Clinical Practice Guidelines: Management of Chronic Hepatitis B.Journal of Hepatology 50(2009) 227-242.

12. Dienstag JL, Isselbacher KJ. Acute Viral Hepatitis. In Kasper DL,Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL and Jameson JL,Harrison’s Principles of Internal Medicine. 16 th ed. Mc Graw-Hill,1822-1838. 2005.