DYSPEPSIA
Soewignjo Soemohardjo
Rumah Sakit Biomedika Mataram
PENDAHULUAN :
Dyspepsia yang oleh orang awam sering disebut dengan “sakit maag” merupakan keluhan yang sangat sering kita jumpai sehari hari. Sebagai contoh dalam masyarakat di negara negara barat dyspepsia dialami oleh sedikitnya 25% populasi. Di negara negara Asia belum banyak data tentang dyspepsia tetapi diperkirakan dialami oleh sedikitnya 20% dalam populasi umum.
Ada berbagai macam definisi dyspepsia. Salah satu definisi yang dikemukakan oleh suatu kelompok kerja internasional adalah: Sindroma yang terdiri dari keluhan keluhan yang disebabkan karena kelainan traktus digestivus bagian proksimal yang dapat berupa mual atau muntah, kembung, dysphagia, rasa penuh, nyeri epigas¬trium atau nyeri retrosternal dan ruktus, yang berlangsung lebih dari 3 bulan. Dengan demikian dyspepsia merupakan suatu sindrom klinik yang bersifat kronik.
Dalam klinik tidak jarang para dokter menyamakan dyspepsia dengan gastritis. Hal ini sebaiknya dihindari karena gastritis adalah suatu diagnosa patologik, dan tidak semua dyspepsia disebabkan oleh gastritis dan tidak semua kasus gastritis yang terbukti secara patologi anatomik disertai gejala dyspepsia. Karena dyspepsia dapat disebabkan oleh banyak keadaan maka dalam menghadapi sindrom klinik ini penatalaksanaannya seharusnya tidak seragam.
Penelitian menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil dari penderita dyspepsia memeriksakan dirinya. Walaupun begitu ternyata dyspepsia memberikan beban ekonomik yang besar baik karena penurunan penghasilan ataupun biaya yang diperlukan untuk pemeriksaan dan pengobatan.
MEKANISME TERJADINYA DYSPEPSIA :
Sampai sekarang mekanisme dari terjadinya dyspepsia belum diketa¬hui jelas. Ada berbagai pendapat mengenai penyebab dyspepsia. Berbagai hal yang dianggap sebagai penyebab dyspepsia misalnya adalah :
- asam lambung
- keradangan
- gangguan motilitas
- alkohol
- rokok
- obat yang merangsang
- makanan yang pedas
Tetapi bukti yang jelas dari peranan hal hal tersebut belum ditemukan. Gejala dyspepsia dapat disebabkan karena keadaan keadaan dalam lambung atau esophagus misalnya :
- Ulkus peptikum
- Dyspepsia non ulkus
- Esophageal reflux
- Gastritis
- Keganasan lambung
Tetapi banyak kelainan diluar lambung yang menimbulkan simptom yang mirip dyspepsia misalnya :
- Penyakit empedu (batu atau keradangan)
- Obat obat
- DM
- Pankreatitis Kronik
- Penyakit Hati Kronik
- Hepatoma
Karena itu dalam evaluasi penderita dyspepsia sering diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan untuk mengkonfirmasikan atau menying¬kirkan dyspepsia misalnya :
- Endoskopi
- Foto saluran makan bagian atas
- Tes fungsi hati
- USG
- Bernstein test
- Monitoring pH
- Pemeriksaan motilitas
- Pemeriksaan Amilase
PEMBAGIAN DYSPEPSIA
Dengan makin banyaknya dilakukan pemeriksaan endoskopi maka dyspepsia dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu dyspepsia organik bila ditemukan penyebab dyspepsia tersebut, dan dyspepsia fungsional bila dengan endoskopi penyebab organic yang jelas tadak ditemukan. Sedang kasus-kasus dyspepsia yang belum dilakukan endoskopi disebut uninvestigated dyspepsia.
DYSPEPSIA FUNGSIONAL
Gejala dyspepsia fungsional (menurut kriteria Roma) :
a. Gejala menetap selama 3 bulan dalam 1 tahun terakhir.
b. Nyeri epigastrium yang menetap atau sering kambuh (recurrent).
c. Tidak ada kelainan organik yang jelas (termasuk endoskopi)
d. Tidak ada tanda-tanda IBS (Irritable Bowel Syndrome)
- symptom tidak hilang dengan defekasi
- tidak ada perubahan frekuensi dan konsistensi tinja.
Mekanisme Terjadinya Dyspepsia Fungsional :
1. Asam lambung
2. Motilitas
- Hipomotilitas antrum : pengosongan lambung terhambat
- Gastrid Accomodation menurun : kemampuan menerima makanan dalam jumlah besar berkurang.
- Gangguan aktifitas listrik pada otot lambung
3. Psikologis
- Anxiety
- Neurotik
- Somatosasi
- Depresi
Gambaran Endoskopi pada dyspepsia yang masih dapat diklasifikasikan fungsional :
• Non erosive gastritis
• Non erosive duodenitis
• Non erosive reflux
Karena korelasi dengan symptom dan PA tidak jelas atau tidak ada. Misalnya kalau dalam endoscopy ditemukan mucosa hiperemis yang secara endoscopik dinamakan gastritik, tetapi masih dikelompokkan kedalam dyspepsia pungsional.
Hanya sebagian kecil penderita dyspepsia yang diperiksa dengan endoskopi. Dyspepsia yang belum dilakukan endoskopi disebut uninvestigated dyspepsia.
DYSPEPSIA ORGANIK
a. Dyspepsia Ulcus
Dyspepsia ulcus merupakan bagian penting dari dyspepsia organik. Di negara negara barat prevalensi ulkus lambung lebih rendah dibandingkan dengan ulkus duodeni. Sedang di Negara berkembang termasuk Indonesia frekuensi ulkus lambung lebih tinggi. Ulkus lambung biasanya dideri¬ta pada usia yang lebih tinggi dibandingkan ulkus duodeni.
Gejala utama dari ulkus peptikum adalah hunger pain food relief. Untuk ulkus duodeni nyeri umumnya terjadi 1 sampai 3 jam setelah makan, dan penderita sering terbangun di tengah malam karena nyeri. Tetapi banyak juga kasus kasus yang gejalanya tidak jelas dan bahkan tanpa gejala. Pada ulkus lambung seringkali gejala hunger pain food relief tidak jelas, bahkan kadang kadang penderita justru merasa nyeri setelah makan.
Penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama DU adalah infeksi H. pylori, dan ternyata sedikitnya 95% kasus ulkus duodeni adalah H. pylori positif, sedang hanya 70% kasus ulkus lambung yang H. pylori positif.
b. GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)
Dahulu GERD dimasukkan dalam dyspepsia pungsional tetapi setelah ditemukan dasar-dasar organik maka GERD dimasukan kedalam dyspepsia organik. Penyakit ini disebabkan Inkompetensi/relaksasi sphincter cardia yang menyebabkan regurgitasi asam lambung ke dalam esofagus.
Dulu sebelum penyebab GERD diketahui dengan jelas, GERD dimasukkan ke dalam kelompok dyspepsia fungsional. Setelah penyebabnya jelas maka GERD dikeluarkan dari kelompok tersebut dan dimasukkan ke dalam dyspepsia organik.
Gejala GERD :
• Gejala khas, terdiri dari :
- “Heart Burn”
- Rasa panas di epigastrium
- Rasa nyeri retrosternal
- Regurgitasi asam
- Pada kasus berat : ada gangguan menelan
• Gejala tidak khas :
- Nafas pendek
- Wheezing
- Batuk-batuk
Gejala GERD lebih menonjol pada waktu penderita terbaring terlentang dan berkurang bila penderita duduk.
GAMBARAN ENDOSKOPIK
Didapatkan lesi berupa robekan pada daerah spinter esophagus yang dibagi menjadi 4 derajat (Pembagian Los Angeles) :
Grade A :
Robekan mukosa tidak lebih dari 5 mm
Grade B :
Ada robekan mukosa yang lebih dari 5 mm dan kalau ada robekan mukosa di tempat lain tidak berhubungan dengan robekan mukosa yang pertama.
Grade C :
Robekan mukosa pada 1 lipatan mukosa berhubungan dengan lipatan mukosa yang lain tetapi tidak difus.
Grade D :
Robekan mukosa difus.
PENATALAKSANAAN
PENATALAKSAAN DYSPEPSIA ORGANIK
A. DYSPEPSIA ULKUS :
Dasar penatalaksanaan ulkus peptikum adalah obat obat untuk menurunkan asam lambung. Pemberian obat obat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu terapi awal yang diberikan untuk penyembuhan ulkus dan terapi maintenance untuk mencegah adanya kekambuhan.
Pengobatan awal :
- Antasid : diberikan tiap 4 jam.
- H2 blocker :
- Simetidin : 3 4 x 200 mg atau 2 x 400 mg atau 800 mg malam hari.
- Ranitidin : 2 x 150 mg atau 300 mg malam hari
- Famotidin : 2 x 20mg atua 40 mg malam hari.
- Penghambat pompa proton : tidak digunakan untuk pengobatan maintenance.
- Omeprasol : 20 mg sebelum makan pagi
- Lanzoprazole : 30 mg sebelum makan pagi
Lama pengobatan awal : Tukak lambung : 12 minggu
Tukak duodeni : 8 minggu
Pengobatan maintenance :
Setengah dosis awal diberikan selama 6 12 bulan. Pengobatan maintenance diberikan untuk mencegah kekambuhan. Untuk pengobatan maintenance tidak dipergunakan penghambat pompa proton.
Untuk kasus kasus ulkus peptikum dengan H. pylori positif yang dilakukan eradikasi H. pylori, dan eradikasi tersebut berhasil, tidak diperlukan lagi terapi maintenance.
Terapi tambahan :
- Memperbaiki ketahanan mukosa misalnya :
Surface coating agent : Sukralfat
- Obat obat anti cholinergik : Pirenzepine
B. GERD
A. Farmakoterapi
- H2 Blocker
- PPI
- Prokinetik
- Metoclopramid
- Domperidon
- Cizapride
- Hindari obat anti cholinergic
B. Perubahan Diit
a. Kurangi porsi makan
b. jangan makan dalam 2 jam sebelum tidur.
c. hindari makanan tinggi lemak, alkohol, coklat dan peppermint
C. Perubahan gaya hidup
Yang harus dihindari :
- pakaian ketat terutama sabuk
- obesitas
- konstipasi
- makan berlebihan
- hindari latihan berat setelah makan
- Tidur dengan bantal tinggi
C. PENATALAKSANAAN DYSPEPSIA FUNGSIONAL
Dasar pengobatan dyspepsia yang dipakai sampai sekarang adalah hilang atau berkurangnya rasa sakit (relief) yang terjadi setelah pemberian antasid atau obat obat penekan asam lambung. Kedua macam obat tersebut bersifat simtomatik. Disamping itu ada beberapa terapi simtomatik yang berbeda antara satu tipe dyspepsia dengan tipe lainnya.
Terapi Dyspepsia Fungsional :
1. Farmakologis
- pengobatan jangka lama jarang diperlukan kecuali pada kasus-kasus berat. (regular medication)
- mungkin perlu pengobatan jangka pendek waktu ada keluhan. (on demand medication)
2. Psikoterapi
- Reassurance
- Edukasi mengenai penyakitnya
3. Perubahan diit dan gaya hidup
- Dianjurkan makan dalam porsi yang lebih kecil tetapi lebih sering.
- makanan tinggi lemak dihindarkan
UNINVESTIGATED FUNGSIONAL DYSPEPSIA
Untuk memudahkan penatalaksanaan, uninvestigated dyspepsia dibagi menjadi tiga tipe yaitu :
1. Ulcer like :
Nyeri epigastrium dengan gejala hunger pain food relief. Nyeri berkurang bila diberikan antasid. Rasa nyeri tengah malam. Penderita dyspepsia “ulcer like” tidak selalu menderita ulcus, tetapi hanya suatu tanda dari hiperchlorhidria.
2. GERD Like
Gejala seperti GERD, misalnya heartburn yang menonjol.
3. Tipe dysmotility/hypomotility :
Gejala berhubungan dengan proses pengosongan lambung yang kurang berupa rasa kembung dan meteoristik, distensi, nausea atau muntah.
4. Tipe campuran
Gabungan dari gejala 1 dan 2
Terapi Farmakologik :
- H2 Blocker
- PPI
- Prokinetik
- dll
Lama terapi empirik :
1 ½ bulan – 2 bulan bila berhasil dapat diteruskan. Bila tidak endoskopi
Pemilihan obat untuk Uninvestigated dyspepsia
a. GERD Type : H2 blocker / PPI + prokinetik
b. Ulcer Type : H2 Blocker/PPI
c. Dismotility
Hipomotility : Prokinetik
Hipermotility : Spasmolytic atau anti cholinergic
HUBUNGAN DYSPEPSIA DAN INFEKSI H. PYLORI
Infeksi H. pylori diketahui merupakan penyebab utama dari gastri¬tis kronik aktif, ulkus peptikum, MALT Lympoma dan kanker lambung type Intestinal. Dapat disimpulkan bahwa infeksi H. pylori merupakan penyebab dyspepsia kronik.
Infeksi H. pylori dan gastritis kronik aktif :
Penelitian menunjukkan bahwa pada hampir semua individu yang mengidap infeksi H. pylori bila dilakukan biopsi mukosa lambung selalu akan didapatkan gambaran histologik Gastritis kronik aktif walaupun mungkin secara individu tidak menunjukkan tanda tanda dyspepsia. Bila infeksi itu berhasil dihilangkan dengan eradikasi maka gambaran histologi mukosa akan normal kembali.
Infeksi H. pylori dan keganasan lambung :
Gastritis kronik aktif akibat infeksi H. pylori akan berlanjut menjadi gastritis atrofik yang selanjutnya menjadi gastric atrophy yang kemudian akan berlanjut menjadi keganasan lambung. Sejak tahun 1994 WHO telah mengakui infeksi H. pylori sebagai karsinogen kelas a (definite) setaraf dengan Hepatitis B dan C untuk Kanker Hati Primer.
Mekanisme terjadinya ulkus duodeni karena infeksi H. pylori :
Adanya infeksi H. pylori kronik menimbulkan gangguan fungsi sekretorik lambung misalnya terjadi hipergastrinemia dll yang menyebabkan hiperasiditas dalam lambung dan duodenum. Hiperasidi¬tas dalam duodenum merupakan suatu keadaan yang memungkinkan hidupnya epitel sel lambung dalam duodenum dan menyebabkan per-pindahan sel sel mukosa lambung kedalam duodenum yang disebut “gastric metaplasia”. Dengan adanya metaplasia yang berbentuk pulau pulau mukosa lambung dalam duodenum maka kuman kuman H. pylori dapat hidup di dalam duodenum pada pulau pulau sel lambung tersebut. Selanjutnya terjadi keradangan pada pulau pulau terse-but dan diikuti dengan terjadinya ulkus ditempat yang sama.
Mekanisme terjadinya ulkus lambung pada infeksi H. pylori :
Pada ulkus duodeni H. pylori berada di antrum. Pada ulkus lambung terjadi atrofi korpus sehingga produksi asam lambung cenderung berkurang. Suasana keasaman yang menurun ini menyebabkan perpin¬dahan epitel mukosa usus kedalam lambung yang disebut “metaplasia intestinal”. Ulkus timbul pada epitel mukosa lambung diperbatasan dengan daerh yang mengalami metaplasia intestinal.
INDIKASI ERADIKASI H. PYLORI
Indikasi kuat eradikasi H. pylori adalah kasus-kasus Ulkus Duodeni dan ulkus lambung dengan H. pylori positif baik yang masih aktif maupun yang tidak aktif.. Eradikasi H. pylori tersebut dilakukan untuk mencegah kekambuhan.
Indikasi lain eradikasi H.pylori adalah
- gastritis hipertrofik
- gastritis atrofik
- gastritis erosiva
- Mucosal Associated Lymphoid Tissue (MALT) Lymphoma
Belakangan ini banyak ahli yang memberikan terapi eradikasi untuk dyspepsia fungsional yang Hp positif, walaupun hanya sekitar 10% yang symptomnya bisa hilang.
ERADIKASI H. PYLORI :
Beberapa macam protokol eradikasi H. pylori yang ada saat ini adalah :
Bismuth triple therapy
Bismuth 120 mg 4ddI
Tetrasiklin 250 500 mg 4 ddI
Metronidasol 250 500 mg 4 dd I selama 2 minggu
atau
Bismuth 120 mg 4 dd I
Amoksisilin 250 500 mg 4 dd I
Metronidasol 250 500 mg 4 dd I selama 2 minggu
PPI dual therapy
Amoksisilin 500 mg 4 dd I
Omeprazol 20 40 mg selama 2 minggu
atau
Klaritromisin 500 mg 2 dd I
Omeprazol 20 40 mg selama 2 minggu
H2RA triple therapy
Ranitidin 1 dd 300 mg
Amoksisilin 750 mg 3 dd I
Metronidasol 500 mg 3 dd I selama 2 minggu
- PPI triple therapy
Klaritromisin 2 dd 250 mg/2 dd 500mg
Omeprazol 1 dd 20 mg atau 2 dd 20 mg
Metronidazol 2 dd 250 mg atau 2 dd 500 mg selama 1 minggu
atau
Klaritromisin 2 dd 250 mg/2 dd 500mg
Omeprazol 1 dd 20 mg atau 2 dd 20 mg
- Tinidazol 2 dd 500 mg selama 1 minggu
Quadruple therapy
Bismuth triple therapy + Omeprazol 2 dd 20mg selama 1 minggu.
Pada saat ini protokol yang hasilnya cukup baik adalah protokol triple. Protokol dual kurang memuaskan. Sedang protokol quadruple dipakai bila terjadi kegagalan dengan protokol yang lain.
KAPAN SUATU KASUS DYSPEPSIA PERLU DIENDOSKOPI ?
Kebanyakan ahli berpendapat bahwa suatu kasus dyspepsia yang telah diberikan terapi konvensional yaitu antasid dan H2 blocker dan tidak berhasil perlu dilakukan endoskopi. Demikian pula penderita dengan alarm symptom, misalnya umur > 45 th, perdarahan, berat badan yang menurun.
DAFTAR KEPUSTAKAAN :
1. Chelwan P.: Long term management of Peptic ulcer disease. JAMA 1996; 12 Suppl: 30 32.
2. Lam S.K.: Etiology and Mechanism of Dyspepsia. JAMA, 1996; 12 Suppl.: 33 34.
3. Lambert J.R.: The role of Helicobacter pylori in Non Ulcer dyspepsia : A debate for. Gastroenterol Clin NA 1993:141 152.
4. Maltfertheimer P., Pieramico O.: Helicobacter pylori in Gus¬tavson, Kumar, Graham (Eds.): The Stomach. Churchill Living¬stone, London 1992:397 312.
5. Marshall B.J.: Treatment of Helicobacter pylori. in Marshall, Mc Callum, Guerrant (Eds.): Helicobacter pylori in peptic ulceration and gastritis. London: Blackwell Scientific publi¬cation 1991: 160 186.
6. Van Ness M.M., Chobanian S.J.: Manual of Clinical Problems in Gastroenterology. Little, Brown and Co, Boston 1994.
7. Van der Hukst R.V.M., Keller J.J., Rauws E.A.J., Tytgat G.N.J.: Treatment of Helicobacter pylori infection. Helico¬bacter 1996; 1:6 19.
8. Distrutti E.; Fiorucci S.; Hauer S.K.; Pensi M.O.; Vanasia M.; Morelli A. Effect of acute and chronic levosulpiride administration on gastric tone and perception in functional dyspepsia. Alimentary Pharmacology & Therapeutics 2002; 16:613-622.
9. Veldhuyzen S J, Flook N, Chiba N, Armstrong D, et al. An evidence-based approach to the management of uninvestigated dyspepsia in the era of Helicobacter pylori. CMAJ 2000 June 13; 162(12):S3-S23
10. Arents N L A, Thijs JC, Kleibeuker J H. A rational approach to uninvestigated dyspepsia in primary care : review of the literature. Medical Journal 2002; 78:707-716
Prof. DR. Dr. Soewignjo Soemohardjo, Sp.PD-KGEH
Biomedical Clinic
Bung Karno street Num. 143
Mataram West Nusa Tenggara Indonesia
Email : Soewignjo@gmail.com
Url : http://biomedikamataram.wordpress.com

May 31, 2009 at 1:20 pm
Yth.Bpk.Wignyo,saya seorang pria 35 thn,menderita dyspepsia kronis sudah 2th.pernah melakukan endoskopy,dan ada luka di pintu masuk lambung,juga ada Cyllus di dasar lambung,perasaan panas pada ulu hati,juga kadang perut,meriang,walau makanya enak dan tidak mual,mohon minta resep yang tepat untuk masalah tersebut yang tidak berefek samping dan berapa lama pemakaianya.trimakasih sebelumnya
June 1, 2009 at 10:51 am
AssalamualaikumWrWb
Sdr Ali Sukron yth,
Saudara menderita dyspepsia organik karena gangguan fungsi sfinkter esophagogastrik yang menyebabkan isi lambung bisa masuk ke dalam esophagus. Dalam keadaan normal hal ini tidak boleh terjadi sehingga isi lambung yang asam tidak bisa masuk ke dalam esophagus yang sangat sensitif terhadap asam. Hal ini menyebabkan radang dari esophagus atau esophagitis dan dalam keadaan yang berat dapat menimbulkan tukak (luka) pada esophagus bagian bawah (pintu masuk lambung).
Penyakit ini disebut GERD (gastroesophageal refux disease). Pengobatannya agat sulit dan perlu waktu yang lama. Pertama diberi obat PPI misalnya omeprazol dalam dosis tinggi (2 kali 20 mg) dan obat-obat prokinetik yang merangsang peristaltik esophagus. Yang paling banyak diberikan adalah domperidon 3 kali 1 tablet. Pengobatan harus berlangsung lama sampai tahunan. Penderita harus menghindari kegemukan, dan tidak boleh makan sebelum tidur (minimal 2 jam). Kalau bisa dibiasakan pakai bantal tinggi dan tidak boleh tidur dalam keadaan memakai sabuk dan menghindari pakaian yang ketat. Resep yang cukup baik (Paten) adalah Nexium 2 kali 20 mg dan motilium 3 kali 1 tablet.
Demikianlah, mudah-mudahan memuaskan.
WassalamualaikumWrWb
Prof. Soewignjo
June 14, 2009 at 1:25 pm
Prof, Mengapa batu empedu sering dikira “maag” ? trs bagaimana cara membedakannya karena gejala-gejalanya hampir sama dengan gejala maag? terima kasih atas penjelasannya prof….
June 15, 2009 at 8:39 am
Dear Rizal
Batu empedu gejalanya adalah kolik di perut kanan atas atau di epegrastrium. Dipepsia gejalanya juga nyeri di epegrastrium hanya batu empedu nyerinya lebih bersifat kolik sedangkan dipepsia nyerinya bersifat perih.Kolik batu empedu biasanya di alami satu jam setelah makan makanan berlemak ,karena gejalanya yang mirip epegrastrium dipepsia yang disertai nyeri epegrastrium yang bersifat kolik harus di curigai sebagai batu empedu dan segera di mintakan USG.
regards
Prof Soewignjo
June 18, 2009 at 12:27 pm
Terima kasih prof atas penjelasannya. Menyambung lagi soal penyakit batu empedu prof, apa saja faktor-faktor yang menyebabkan penyakit tersebut ? Terima kasih
June 19, 2009 at 9:00 am
Dear Rizal ,
Seperti yang ada dalam kuliah ada 3 faktor yang mempengaruhi terbentuknya batu empedu yaitu :
Fat : Batu empedu terdapat pada orang gemuk
Forty : Batu empedu kebanyakan pada orang berumur 40 tahun
Female: Batu empedu banyak terdapat pada wanita
Tetapi itu hanya kebanyakan,batu empedu bisa terjadi pada orang laki-laki yang kurus.Faktor yang sangat penting adalah adanya infeksi kandung empedu (Kolesistis)
Regards
Prof Soewignjo
July 19, 2009 at 10:03 am
Salam kenal Prof.
Saya Pria umur 29 th, TB 170/BB 75 Kg. Tidak pernah konsomsi alkohol, stop rokok 2 Th yg lalu, jogging 20 mnt setiap sore, rajin komsumsi Outmeal, sayur & buah buahan. Adapun keluhan saya dalam 2 bulan ini sering merasakan pusing kepala, meriang, badan lemas, nafas sesak/pendek, memang saya sudah 2 thn ini divonis Dokter menderita GERD. Saya sudah Test lab dengan hasil ada asam urat 8,1 & kolesterol total 223. Selama 2 th itu jg saya sering bolak balik ke dokter untuk konsultasi & berobat mengenai penyakit saya. Yang mana saya sering merasakan badan lemas, kadang kadang keringat dingin, diiringin dengan sendawa & sesak nafas, padahal hasil EKG saya tiap 6 bulan sekali hasilnya selalu Normal (tidak ada masalah). Saya bingung Prof dengan penyakit ini, dimana saya sering bolak balik ke Dokter padahal saya sudah mencoba menjaga pola makan saya walaupun kadang kadang sesekali saya masih coba untuk melanggar pantangan dalam makanan.
Adapun yang ingin saya tanyakan Prof adalah :
1. Mengapa kepala saya sering pusing terutama ditenggkuk padahal tensi saya normal 120/80 Dok ?
2. Mengapa nafas saya sesak dan kadang kadang tersa pendek apakah ini sakit jantung Dok (padahal hasil EKG saya Normal) ?
3. Apakah sakit saya ini bisa sembuh Prof, karena sejak saya mengidap sakit ini kwalitas hidup saya turun dok?
4. Apakah aman bila saya terus konsumsi obat obatan GERD Prof ?
5. Apakan yang harus saya lakukan Prof untuk mengobati penyakit saya ini.
Demikian prof, kiranya saya mohon bantuannya. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih
Hormat saya
Haries Taufik
July 21, 2009 at 8:25 am
Saudara Haries Yth,
Agak aneh kalau saudara joging 20 menit tiap hr tapi mengeluh sesak napas dan terasa napas pendek. Salah satu penyebab adalah overweight karena mestinya berat badan saudara maksimal 70 kg. Tetapi kalau keluhan sesak ini jelas sedangkan ECG saudara normal, maka saudara harus diperiksa treadmill yaitu pemeriksaan ECG pada saat saudara diberi beban fisik yaitu dengan lari diatas treadmill, kadang-kadang ada kelainan jantung yang tidak bisa dilihat dengan ECG tetapi harus di lihat dgn treadmill.
Kedua, mengenai diagnose GERD apakah sudah dipastikan dengan endoskopi, kalau belum saudara perlu dilakukan endoskopi, kalau memang GERD ada beberapa anjuran yang perlu diikuti:
1. Menurunkan BB
2. Tidak boleh tidur setelah makan, paling tidak berjarak 2 jam
3. Menghindari pakaian ketat misalnya sabuk yang ketat
Mengenai obat-obat GERD kalau memang betul tidak mempunyai efek samping walaupun diminum jangka lama.
Mengenai sakit kepala tidak selalu disebabkan karena hypertensi masih banyak penyebab lain misalnya, kelainan tulang leher yang disebut Cervical syndrome kelainan ini harus dipastikan dengan foto servikal. Kalau memang ada Cervical syndrome harus dilakukan fisiotherapy (Cervical Traction). Kalau melihat saudara baru berumur 29 th maka dengan mengikuti petunjuk kesehatan saudara pasti bisa sembuh. Jadi yang saudara lakukan adalah:
- Pemeriksaan Treadmill, endoskopi,dan foto servikal.
Sekian mudah- mudahan jelas.
Wass.
Prof.Soewignjo S
July 23, 2009 at 3:39 pm
Terima kasih Prof atas penjelasannya, adapun saya tidak merasakan sesak nafas selagi olah raga tetapi pada saat duduk (tidak melukukan aktifitas) atau kadang kadang sesaat Gerd saya mau kambuh Prof, untuk Gerd saya sudah konsultasi ke 4 Dok internis (Spesialis pecernaan & paru)
Memang saya akui sejak saya kena Gerd saya sering merasakan kecemasan yang tinggi Prof.
Salam sukses Prof