NECROINFLAMATION ACTIVITY AND FIBROSIS STATUS IN CHRONIC HEPATITIS B PATIENTS WITH NORMAL OR SLIGHTLY INCREASED ALT
(A PRELIMINARY STUDY)
Haris Widita(1), Stephanus Gunawan(2), Soewignjo Soemohardjo(2), Kusumowardoyo(3), and Wenny Astuti Achwan(1)
(1) Department of Internal Medicine, Mataram General Hospital
(2) Biomedical Research Unit, Mataram General Hospital
(3) Department of Pathology, Medical Faculty Airlangga University
The most important transmission route of HBV infection in Indonesia is vertical infection and early childhood horizontal transmission. As the consequence many chronic hepatitis patients existed in immunotolerant phase. The common management guidelines for such patient are monitoring without antiviral treatment. In this preliminary study we have selected patients with HBsAg positive for more than 6 months with chronic hepatitis feature in ultrasonography and agreed liver biopsy. Nineteen patient meet the criteria and 18 patients were HBeAg positive and 1 patient was HBeAg negative. From those 19 patients 14 showed normal or slighty increased ALT (< 2x upper normal limit) and 5 with ALT >2x upper normal limit. From those 14 patients histological examination using METAVIR classification showed active necroinflamation and fibrosis (more than grade 2 and stage 2) in 6 patient (42.85%), and 8 patients showed necroinflamation less than grade 2. Using conventional management guidelines at least 40% chronic Hepatitis B patients will loss the opportunity of antiviral treatment, despite the fact that those patients with significant necroinflamation will progress to hepatic cirrhosis. Thus histological assesment is invaluable for determining HBV antiviral treatment in patients with persistenly normal transaminase.
Prof. DR. Dr. Soewignjo Soemohardjo, Sp.PD-KGEH
Biomedical Clinic
Bung Karno street Num. 143
Mataram West Nusa Tenggara Indonesia
Mobile : +628123778689
Email : Soewignjo@gmail.com
Url : http://biomedikamataram.wordpress.com
Social Bookmarking
AKTIFITAS NEKROINFLAMASI DAN STATUS FIBROSIS PADA PENDERITA HEPATITIS B KRONIK DENGAN KADAR ALT NORMAL ATAU SEDIKIT MENINGKAT
(Laporan Pendahuluan)
Haris Widita(1), Soewignjo Soemohardjo(2), Kusumowardoyo(3),
Stephanus Gunawan(2), dan Wenny Astuti Achwan(1)
(1) Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSU Mataram
(2) Unit Riset Biomedik RSU Mataram
(3) Bagian Patologi Anatomi FK Unair
PENDAHULUAN
Tujuan utama pemberian obat antiviral untuk penderita Hepatitis B Kronik adalah mencegah terjadinya sirosis hati dan hepatoma.(1,2) Sampai saat ini kebanyakan ahli berpendapat bahwa obat-obat antiviral tidak diberikan kepada penderita infeksi Hepatitis B kronik dengan ALT normal atau sedikit meningkat walaupun HBeAg positif. Suatu hal yang perlu diketahui adalah adanya sebagian penderita infeksi Hepatitis B Kronik dengan HBeAg positif dan kadar ALT normal yang menunjukkan aktifitas nekroinflamatorik dan terjadinya fibrosis yang signifikan, yang menunjukkan adanya kemungkinan untuk mengalami progresi menjadi sirosis. Penderita-penderita semacam ini perlu mendapat obat-obat untuk menekan replikasi Virus Hepatitis B untuk mencegah sirosis.(3) Di Indonesia cara penularan infeksi Hepatitis B terpenting adalah cara penularan vertikal (perinatal) dan penularan horizontal pada masa bayi dan anak-anak. Sebagai akibatnya banyak penderita infeksi Hepatitis B yang berada pada fase imunotoleran dengan HBeAg positif dan ALT normal.(4) Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologik penderita-penderita Hepatitis B Kronik dengan kadar ALT normal atau yang sedikit meningkat serta untuk mengetahui tingkat nekroinflamasi dan fibrosis pada penderita-penderita tersebut. (more…)
Posted by biomedikamataram under
Articles | Tags:
sindroma tur |
Leave a Comment
SINDROMA TUR
Baskoro Tri Laksono*, Suhardjendro**, dan Soewignjo Soemohardjo***
* UGD Rumah Sakit Biomedika Mataram
**Bagian Urologi RSUD Mataram
*** Bagian Penyakit Dalam RSUD Mataram
Pendahuluan
Pembedahan prostat transuretral (TURP) masih merupakan salah satu terapi standar dari Hipertropi Prostat Benigna (BPH) yang menimbulkan obstruksi uretra. Operasi ini sudah dikerjakan mulai beberapa puluh tahun yang lalu di luar negeri dan berkembang terus dengan makin majunya peralatan yang dipakai. Tapi di Indonesia khususnya di Mataram TURP ini relatif baru. Terapi ini makin populer karena trauma operasi pada TURP jauh lebih rendah dibandingkan dengan prostatektomi secara terbuka.
Dalam TURP dilakukan reseksi jaringan prostat dengan menggunakan kauter yang dilakukan secara visual. Dalam TURP dilakukan irigasi untuk mengeluarkan sisa-sisa jaringan dan untuk menjaga visualisasi yang bisa terhalang karena perdarahan. Karena seringnya tindakan ini dilakuan maka komplikasi tindakan serta pencegahan komplikasi makin banyak diketahui. Salah satu komplikasi yang penting dari TURP adalah intoksikasi air dan hiponatremi dilusional yang disebut Sindroma TUR yang bisa berakhir dengan kematian.
TUR syndrom adalah suatu komplikasi yang paling sering dan paling menakutkan dalam pembedahan urologi endoskopik. Di tangan para ahli yang berpengalamanpun, Sindroma TUR dapat terjadi pada 2% kasus dengan mortalitas yang masih tinggi. Sampai sekarang Sindrom TUR merupakan suatu komplikasi yang sangat menakutkan baik untuk para urolog yang melakukan operasi maupun para anestesiolog yang seharusnya melakukan diagnosa sindrom ini dan melakukan intervensi untuk mencegah kematian(1,2). (more…)
MUTASI KODON 249 GEN P 53 PADA JARINGAN
HATI NON KANKER
(LAPORAN PENDAHULUAN)
Haris Widita***, Soewignjo Soemohardjo*, Zainul Muttaqin*, Kusumowardoyo**,
Stephanus Gunawan*, dan Wenny Astuti Achwan***
* Unit Riset Biomedik RSU Mataram
** Bagian Patologi Anatomi FK Unair
*** Bagian Penyakit Dalam RSU Mataram
———————————————————————————
ABSTRAK
Pendahuluan
Peran p53 yang merupakan salah satu gen penekan tumor dalam terjadinya Kanker Hati Primer (KHP) sangat penting karena gen tersebut berperan dalam pengaturan pertumbuhan sel dan proses apoptosis. Infeksi virus Hepatitis B dan C keduanya menghambat peran gen p53 tersebut dan sering terjadi mutasi pada gen tersebut. Pada KHP sering terjadi mutasi pada kodon 249 gen p53. Hal ini diduga sebagai salah satu pemicu terjadinya KHP. Mutasi gen p53 dideteksi pada jaringan KHP. Dengan metode SSCP (Single-stranded conformational polymorphism) mutasi gen p53 hanya didapatkan pada jaringan keganasan dan tidak dapat dideteksi pada jaringan yang belum mengalami keganasan. Tapi dengan menggunakan metode yang lebih canggih seperti ASPCR (Allele-specific polymerase chain reaction) mutasi gen p53 dapat dideteksi lebih dini pada jaringan hati yang belum mengalami keganasan. Sehingga terbuka kemungkinan untuk melakukan deteksi molekuler dini keganasan hati dengan kemungkinan intervensi dini pada kasus-kasus dimana terdapat kemungkinan untuk terjadinya KHP di masa yang akan datang. (more…)
THE ABSENCE OF UREASE ENZYMATIC
ACTIVITY OF HELICOBACTER PYLORI COCCOID FORM
Dwi Sulistya Dyah Jekti*, Soewignjo Soemohardjo**, and Zainul Muttaqin**
*Department of Biology Faculty of Education, Mataram University
**Biomedical Research Unit Mataram General Hospital
——————————————————————————————————————————-
ABSTRACT
Helicobacter pylori is a gram negative and pleomorphic bacteria that able to change its morphology according to the environment
OBJECTIVE : The objective of the study was to determine the biochemical and some genetic characteristic of coccoid form of H. pylori induced by starvation, aerobiosis and antibiotic.
MATERIAL AND METHOD : The material of the study is an isolate of spiral form of CagA positive H. pylori grown from gastric biopsy specimen of a patient with chronic gastritis. The CagA positive isolate was subcultured in liquid media containing the sheep sera. The sample was divided into three groups each group consist of 27 tube. Each tube contained 109 CFU of H. pylori bacteria/ml in 4 ml liquid media. So the experiment was performed in 3 replicates. In the first group of sample, coccoid form was induced by a prolonged culture under microaerophilic condition without the addition of fresh media, in the second group by aerobiosis, while in the third group by addition of 0,1 microgram amoxycillin/ml cultured in microaerophilic condition. Periodic sampling was done every day to calculate the percentage of coccoid form, to observe the possibility to regrow the spiral form and for serial electron microscopic observation. One tube is picked up in every periodic sampling. In for tubes containing antibiotic the periodic sampling was done one hourly. Detection of cag A and ure A gen was done by PCR with appropriate primers. (more…)
ORIGINAL ARTICLE
THE DETECTION OF HELICOBACTER PYLORI IN GASTRIC MUCOSAL BIOPSY SPECIMENS BY PCR USING PRIMERS DERIVED FROM URE C GENE IN PATIENTS WITH DYSPEPSIA
Soewignjo Soemohardjo, I Gede Palgunadi , S. Gunawan,
Zainul Muttaqin, Haris Widita, and Wenny Astuti A
Department of Internal Medicine and Biomedical Research Unit
Mataram General Hospital
————————————————————————————————————
ABSTRACT
The detection of H. pylori in gastric biopsy specimens can be done using CLO (Campylobacter Like Organism) test and histopatological examination, but the sensitivity of both method is influenced by the density of the bacteria in the sample. In patient not stopping the antibiotic or acid suppresant drug before endoscopy the urease producing spiral shaped bacteria might be replaced by coccoid form that does not show urease activity and it is not detectable by CLO. Beside that, the coccoid form is detected with difficulty by histology and need immunohistochemical stain to confirm. PCR can be used for the detection of both spiral and coccoid form of the bacteria. (more…)